Hello, My Friend

 

*Knock-knock
A little bit startled, i look at my watch. It’s almost midnight. Who in their right mind come at this hour?
“Who is it?” I hope it was just my imagination.
“it’s Me”
………….. I should’ve known. Who else have the nerve to come whenever he pleases?
“Wrong room. I don’t have any friend named Me. Try next door!”
“Haha. Funny. Open the door.”
“It’s not locked, just come in.” i’m feeling too lazy to rise up from the couch and open the door for him.
“it’s midnight and you haven’t locked your door yet?”
“well, the only burglar around here is decent enough to knock the door first. so i’m good”
“fair point. what’re you doing?”

 

an odd question. it should’ve been me asking him that question. not the other way around.

 

“…….drinking, can’t you see?” i wave my glass of whiskey in front of him.
“i can see that, but it’s been a while since you drink. What happened?”

 

again, odd question.

 

“you know what happened”
“i don’t”
“that’s a lie”
“yes it is.”

 

*sigh… again with this routine.

 

“what are you doing here? at this hour nonetheless?”
“i’m in the neighborhood, and want to make sure you’re okay”
“i am”

 

he burst out laughing for almost a full minute. what the hell? i decided to just watch.

 

“Hahahaha…. sorry….. it’s just….. you’re okay? yeah. right”
“look at me, i’m fine, ain’t i? i’m not even drunk!”
He just sit down beside me and grab my glass
“seriously though, what happened?” he drink the rest of the liquor and put the glass down
“Jesus. Again, you know what happened!”
“I do, but i want to hear it from you”

 

……………………….

 

“I fell again”
“And?”
“It kinda hurts”
“well, you fell. it obviously will hurt. have you treated it yet?”
“just first aid treatment. i don’t think it’s serious.”
“just kinda hurt” he quoted what i just said a few seconds ago.
“yep”
“let me see”
i showed it to him
“it’s the same place?”
“just like you see”
“well, i think you patched it up pretty good. Experience, eh?” he said that with a smirk.
“wipe that smug off your face”
“i’m smiling, jerk! Hahahahahaha”

 

Laughing again? did he smoke weed or something before coming here?

 

“what’s funny?”
“you”
“you’re probably the only one who think that in this universe.”
“oh well, it’s not like you care about what other people think. If there’s any, that is”
“you’re right. i don’t care”
“so, then, what happened?”
Third times is a charm. Seems like he won’t ever leave unless i told him all about it.
“can we talk about it in the morning? Don’t you wanna sleep?”
“yeah, like i need sleep. Just talk”

 

I take a deep breath. It’s gonna be a long night…

 

 

Posted in Just Me... | Leave a comment

Porn, Sex Ed, And Our Delusion

The title is just a click bait, and this is just a rant. Maaf, pengen keren aja.

But the content is serious though. Kinda.

I AM a porn consumer. Almost all kind of it. Games, videos, books, pictures, fanfiction, comic, you name it. Tapi itu semua gak akan pernah bisa jadi justifikasi jika di kemudian hari saya tertangkap melakukan pelecahan seksual kepada seseorang. If i ever do that, that’s just mean i’m an asshole, porn consumer or not.

But then this happened on my twitter’s time line

1483976972853

keliatannya masuk akal ya?

Not to me. Far from it. Dari dua hal aja:

  1. Ketika kamu bilang “pelecehan dalam bentuk apapun ga bole”, itu udah titik. Final. Period. Udah aja berenti di situ. Gak usah-dan gak bisa- ditambah lagi “tapi”.
  2. Gak ada yang salah dengan jadi “whore”. Gak ada bedanya dengan jadi polisi. So what if someone is selling their body for a living?  You can’t disrespect or harass them. Ever.

Apa yang orang pake itu bukan urusan orang lain. Lagian apa itu “whore’s uniform”? Apa bedanya sama yang pake bikini doang di pantai? Gak ada kan yang nyamperin cewek berbikini kemudian nyembur “you whore!”? Same thing applied ANYWHERE.

Now to sex ed. Sex education itu bukan buat ngajarin anak-anak having sex. Tapi supaya mereka lebih mengenal tubuh mereka sendiri, dan respek sama tubuh orang lain. Termasuk di dalamnya adalah CONSENT. Itulah kenapa tindakan seperti pelecehan seksual-apalagi perkosaan-adalah tindakan pidana. Karena gak ada persetujuan disitu.

People will have sex eventually. Sooner or later. Tapi dengan mengajarkan sex ed gak dengan lantas berarti mengajarkan mereka melakukannya sedini mungkin. Sex ed itu cuma buat bekal mereka, when they do reach coming of age, if they decided to have one, they will do it responsibly, and safely. Karena apa yang orang dewasa lakukan dengan tubuhnya adalah urusannya sendiri.

I’m not talking about moral here. It’s for you to decide what’s moral and immoral. I’m just talking about the implication. Tanpa ada sex ed yang baik dan benar, orang bakal nyari sendiri. Dengan akses internet seperti sekarang, tanpa ada parental control yang baik, ujung-ujungnya adalah anak-anak/remaja hanya tahu tentang sex tok, tanpa tau apa resikonya. hasilnya? this:

1483979511422

Itu implikasi yang saya maksud. Puncak gunung esnya. Hamil di usia yang belum matang. Masih 15 tahun, bahaya buat ibu dan bayinya. Belum hukuman sosial buat si anak. Sekali lagi, disitu juga pentingnya consent dan sex ed. Supaya kasus seperti itu gak terulang terus. Bukan untuk mengajari anak-anak berhubungan seksual, tapi mengajari mereka untuk tahu dan menghargai tubuh mereka dan orang lain. Mengajari mereka untuk bertanggung jawab terhadap tubuhnya dan tubuh orang lain.

Mau diakui atau nggak, angka sex bebas itu udah tinggi di Indonesia. Bahkan kasus dari SD pun ada. Mau sampai kapan kita mentabukan sex? Sesuatu yang sebenarnya alamiah. Sama alamiahnya dengan lahir-tumbuh-puber-dewasa-tua-mati. Gak perlu ditakuti, hanya perlu dipahami. Jangan karena orang dewasa gak mau memberikan informasi yang benar, anak-anak mencari informasi dari sumber yang salah dan jadi korban.

Kita pasti tahu itu, hanya memlilih untuk menutup mata dan beranggapan semua baik-baik saja.

And that’s what delusional is.

Posted in Just Me... | Leave a comment

To Love Somebody

“It’s important to have the ability to love somebody, but it’s more important to have the courage to let ourselves be loved by someone”

🙂

Everlasting Essences

Fate works in a magical way. We meet a bunch of people in this life. Some people are meant to just pass by, and some are meant to stay in our life forever. Some are meant to teach us something, and some are meant to learn something from us. Some will take, and some will give. Some help, and some will be helped. Some love, and some are being loved.
Some has it the easy way, some has it hard. But in the end, we’ll find that it’s all worth the fight. We’ll meet the right person at the right time and the right place. There is no coincidence in life.

People who don’t belong with us will never be ours no matter how hard we try to make them stay, and those who are destined to belong with us will be ours no matter how hard we try to…

View original post 399 more words

Posted in Just Me... | Leave a comment

Kamu egois.

Sudah sering sekali aku mendengar kata itu ditujukan kepadaku. Mungkin mengacu pada fakta bahwa pola pikirku seringkali berbeda dari kebanyakan orang di sekelilingku, dan ketika aku mencoba untuk sedikit mengutarakan apa yang ada dalam pikiranku tersebut, kata itulah yang biasanya keluar sebagai respon. Egois.

 

Atau mungkin aku memang egois. Bukannya gak sadar sih. Memang egois untuk mendahulukan cita-cita ketimbang berkeluarga. Apalagi kalau cita-cita tersebut mencakup keliling dunia dan meninggalkan semuanya. Memang egois (atau narsistik?) untuk mencintai diri sendiri lebih dari siapapun.

 

Tapi salahkah itu? Bagaimana dengan mereka yang merasa berhak untuk menentukan jalur hidupku, merasa tau apa yang paling baik bagiku, dan memberikan masukan-masukan yang menurut mereka sudah sewajarnya untuk aku lakukan sebagai bagian dari memenuhi “kewajiban”ku? dari sudut pandang mereka mungkin itu adalah memberikan contoh. Dari sudut pandangku, mereka sama egoisnya denganku. Mereka mengasumsikan bahwa aku akan hidup seperti mereka. Melakukan apa yang mereka lakukan. Mempercayai apa yang mereka percaya.

 

Aku adalah antithesis dari semua itu. Bisa dibayangkan bagaimana sepinya?

Posted in Just Me... | Leave a comment

It’s ironic, isn’t it? That the only way you can truly feel alive, is to give another person the power to destroy you

-Iona Payne, Forever

***

Maybe that’s why we love. To love someone, for me, means to give another person the power to kill you. You can protect yourself from your enemy but you can’t defend from the one you love. She can stab your heart with ease and you wouldn’t even know it.

That’ what I don’t like about loving someone. I don’t like being vulnerable. I don’t like being irrational. I don’t like doing things I know makes no sense at all.

But I can’t help it.

I can’t help falling in love, having a crush and getting so obsessed about it to the point it started to hurt.

And even though I hate all that, god knows I enjoy it.

Posted in Just Me... | Leave a comment

so… this is it…

moving on…

meski udah disiapin jauh-jauh hari, pas hari H nya ternyata masih agak serem juga. ninggalin semua yang udah jadi bagian hidup sekian lama. dan sekarang, i’m moving on for good. udah gak ada alasan lagi buat tinggal lebih lama.

gak nyangka juga si bakalan secepat ini. masih banyak yang pengen gua lakukan disini. masih ada beberapa urusan yang belum kelar juga, meski memang gak begitu penting sampai harus bikin gua stay.

sekarang, semua ingatan selama disini kayak ngebanjirin otak. semua suka duka dan dosa yang gua lakukan disini, kayak disajikan dalam bentuk film. tanpa kronologis yang jelas. apapula pentingnya kronologis sekarang ini.

ngomong-ngomong soal dosa, kayaknya cuma itu yang gua bawa dari sini. sisanya semua udah diberesin. agak aneh ngeliat kamar sendiri tiba-tiba rapih gini.

……….

now then… time to go….

P.S: i just hope they fulfilled my last will to cremate my body and throw the ash to the sea. i know that’s highly unsual.

Posted in Just Me... | Leave a comment

Jejak Duniawi

a very great read….. 🙂

Everlasting Essences

d32793be4b51ebfa12fea6c7a442497c

Selama ini kita terlalu terpaku pada ilusi akan adanya suatu ‘jalan’, misalnya dengan adanya ungkapan-ungkapan seperti “Banyak jalan menuju Roma” (“All roads lead to Rome”) dan “Kembalilah ke jalan yang benar”, sehingga kita otomatis menganggap bahwa—meskipun beberapa di antara kita mengakui bahwa bisa saja semua jalan itu membawa kita pada satu tujuan yang sama—kita perlu untuk menempuh salah satu ‘jalan’ untuk mencapai tujuan akhir itu. Ilusi akan adanya ‘jalan’ seolah-olah menempatkan suatu gambaran akan adanya setapak untuk dijalani, di mana jika kita melangkah keluar dari jalan tersebut, maka kita akan tersesat atau takkan pernah sampai ke tujuan.

Namun, perlukah ada ‘jalan’? Ilusi ‘jalan’ menggambarkan bahwa ada lebih dari satu jalan (sebab tidak semua orang menempuh ‘jalan’ yang sama), dan jalan-jalan tersebut semuanya terpisah satu sama lain, meskipun kadang-kadang mereka saling berpotongan di sana sini.

Perlukah ada ‘jalan’? Adanya ‘jalan’ secara tidak langsung menganggap bahwa…

View original post 921 more words

Posted in Just Me... | Leave a comment